Home Majelis Pendidikan Madrasah Alkhairaat di Gorontalo Utara, Minim Ruang Kelas hingga Kakus

Madrasah Alkhairaat di Gorontalo Utara, Minim Ruang Kelas hingga Kakus

541
0

Madrasah Aliyah (MA) Al-Khairaat Gentuma di Kecamatan Gentum Raya, Kabupaten Gorontalo Utara, Gorontalo, terpaksa membatasi jumlah murid baru lantaran hanya memiliki sedikit ruang kelas. Kepala MA Al-Khairaat Gentuma, Alfia Anuz, mengatakan jika calon murid yang mendaftar membeludak, maka panitia akan mengarahkannya ke sekolah lain.

“Sementara orang tua mereka memaksa kami agar anaknya di sekolahkan di MA ini,” ungkap Alfia Anuz, Senin (1/7).
Alfia menjelaskan minat para calon murid cukup tinggi untuk masuk di sekolah itu. Namun atas dasar terbatasnya sarana dan prasarana pendidikan, maka pihak sekolah hanya mampu menerima 105 calon murid untuk tiga kelas.
“Kalau di tahun ini, siswa yang mendaftar hanya sesuai dengan jumlah tersebut. Maka saya rasa cukup untuk tiga ruangan kelas,” tutur Alfia.

Jumlah ruangan di MA Al-Khairaat Gentuma itu, kata Alfia, sebenarnya ada sembilan, yakni tujuh ruang kelas, satu ruang laboratorium, dan satu ruang perpustakaan. Tetapi pihak sekolah sepakat agar ruang perpustakaan difungsikan menjadi ruang kelas. Sebagai gantinya, satu ruang kelas dialihfungsikan menjadi ruang guru atau kantor.

“Ruang kelas kami berukuran 8×9 meter persegi. Maka dengan ini, tempat kepala MA dan ruang guru dibuat di dalam satu ruangan saja,” jelas Alfia.

Alfia mengatakan sekolah itu dibangun Kementerian Agama Kantor Wilayah Provinsi Gorontalo dengan anggaran Rp 150 juta pada 2006. Anggaran itu hanya cukup untuk membangun dua ruang kelas, tetapi jumlah itu cukup untuk menampung seluruh murid saat itu. Seiring berjalannya waktu, jumlah murid pun bertambah, sehingga harus ditambah ruang kelas baru.
Kemudian MA Al-Khairaat Gentuma mendapat bantuan dari Dinas Pendidikan Provinsi Gorontalo sebesar Rp 50 juta pada 2017. Dana bantuan itu hanya digunakan untuk membuat pagar beton sekolah. Diketahui bahwa empat tahun sebelumnya, 2013, sekolah juga mendapat dana yayasan sebesar Rp 200 juta untuk menambah ruang kelas.

“Hingga saat ini belum ada bantuan untuk penambahan ruangan kelas. Meskipun ada dana Bantuan Operasioanl Sekolah (BOS), namun hanya untuk pemeliharaan, bukan untuk pembangunan gedung baru,” kata Alfia.

Selain kekurangan ruang kelas, Alfia menyebut MA Al-Khairaat Gentuma juga kekurangan sejumlah fasilitas lain, di antaranya komputer, kakus untuk murid dan guru, serta fasilitas olahraga.
Fasilitas komputer dinilai sangat mendesak karena sekolah itu sudah menggunakan sistem Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Selama ini, kata Alfia, para guru harus mencari komputer di tempat lain saat diadakan UNBK.

“Biasanya hanya pakai laptopnya guru-guru. Kadang juga kami pinjam teman guru di sekolah lain. Kalau dari tenaga pengajar, kami semuanya berjumlah 19 orang dan kami rasa itu sudah cukup,” ujar Alfia.
Saat ini MA Al-Khairaat Gentuma memiliki murid sebanyak 172 orang yang terbagi ke dalam tujuh kelas, yaitu tiga kelas untuk kelas 10, dua kelas untuk kelas 11, dan dua kelas untuk kelas 12.

Sementara itu, Kepala Desa Ketapang, Surianto Bakari, mengungkapkan MA Al-Khairaat Gentuma sudah menjadi sekolah favorit anak-anak desa tersebut. Tetapi minimnya sarana dan prasarana sekolah itu membuat sebagian dari mereka terpaksa mencari sekolah umum yang ada di Kecamatan Gentuma Raya.
Menurut Surianto, pemerintah desa pun sudah memberi bantuan berupa pembuatan kakus untuk murid dan guru di sekolah tersebut pada Oktober 2018.

“Baru sekali kami memberikan bantuan, lantaran pihak sekolah tidak mau terlibat dengan pemerintah secara langsung karena itu adalah sekolah milik swasta,” ungkap Surianto.
Surianto menambahkan terbatasnya pusat pendidikan di wilayah itu menjadi hambatan untuk mengembangkan potensi ekonomi warga Desa Ketapang yang berjumlah 1.037 jiwa atau 374 kepala keluarga. Sebanyak 50 persen dari penduduk saat ini bekerja sebagai nelayan, sisanya bekerja sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS) dan di sektor swasta.

Umumnya masyarakat yang tinggal di daerah pesisir ini memanfaatkan hasil laut untuk memenuhi kebutuhan ekonominya. Menurut Surianto, ada sebagian anak yang putus sekolah dan membantu orang tuanya sebagai nelayan.
“Pendidikan sangat penting bagi kami. Dengan sumber daya manusia yang tinggi, harapan saya ke depannya masyarakat di Gentuma Raya bisa memajukan perekonomiannya sebagai pengusaha ikan,” pungkas Surianto.

Sumber: Kumparan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here