Beranda Nasional Habib Sadiq Alhabsy Tanggapi Tudingan Faizal Assagaf Perihal NU

Habib Sadiq Alhabsy Tanggapi Tudingan Faizal Assagaf Perihal NU

1711
1

Tokoh muda Alkhairaat, Habib Mohammad Sadig al-Habsyi, menilai pernyataan Faizal Assegaf tentang Nahdlatul Ulama (NU) hanya memperkeruh suasana harmonis di tengah umat Islam.

Sumber: Video youtube Faizal Assegaf

Hal itu ia sampaikan menanggapi video monolog Faizal yang diunggah di media sosial dan viral beberapa hari belakangan, Sabtu (30/10/2021).

“Saya menganggap statement Faizal Assegaf yang menggugat NU, K.H. Hasyim Asy’ari, keturunannya, dan para kiai NU sebagai cara-cara yang tidak mencerminkan akhlak sebagaimana yang dicontohkan oleh ulama, kiai, habaib, dan asatidz dari kalangan Ahlus Sunnah wal Jama’ah,” tegas Habib Sadig.

Ia mencatat paling kurang terdapat tiga kekeliruan mendasar di dalam pernyataan-pernyataan Faizal.

“Pertama, Faizal tidak melakukan riset yang cukup tentang kealiman dan keulamaan K.H. Hasyim Asy’ari. Andai dia tahu bahwa K.H. Hasyim Asy’ari adalah ahli hadis yang belasan tahun berguru di Makkah, salah satunya di bawah bimbingan Sayyid ‘Abbas al-Maliki, seharusnya Faizal tahu diri dan menahan komentar-komentarnya yang ceroboh,” terangnya.

Habib Sadig juga menambahkan, berkat kealiman tersebut, ketika kembali ke Tanah Air, K.H. Hasyim Asy’ari mendapatkan penghormatan dan mendapatkan dukungan dari para ulama dan habaib.

“Faizal mungkin tidak tahu bahwa K.H. Hasyim Asy’ari merupakan karib dari pendiri Alkhairaat, al-Habib ‘Idrus bin Salim al-Jufri, karena keduanya pernah menimba ilmu kepada Sayyid ‘Abbas. Keduanya memiliki sanad ilmu yang sama. Wajar bila sejarah Alkhairaat mencatat bahwa K.H. Hasyim Asy’ari dan al-Habib ‘Idrus pernah bersua ketika keduanya berada di Jombang, Jawa Timur,” tambahnya.

Tentang pengkultusan terhadap K.H. Hasyim Asy’ari, Habib Sadig berpendapat bahwa tidak mungkin K.H. Hasyim Asy’ari memerintahkan pengikut NU untuk melakukan hal tersebut.

“Kalau saat ini ada yang terkesan mengkultuskan K.H. Hasyim Asy’ari, selama itu tidak termasuk dalam kategori musyrik, tidak ada yang perlu dibesar-besarkan. Semua ulama mempunyai pengikut yang mengeskpresikan rasa cintanya dengan cara mereka masing-masing,” ungkap Habib Sadig.

Pada kesempatan yang sama, ia juga membantah tudingan bahwa sejarah NU telah dibuat seolah-olah terpusat pada profil K.H. Hasyim Asy’ari.

“Itu tidak betul. Saya tidak pernah melihat ada upaya dari masyarakat NU atau Nahdliyyin tertentu untuk hanya menonjolkan peran K.H. Hasyim Asy’ari. Semua organisasi Islam di Indonesia, mulai dari Muhammadiyah, NU, Alkhairaat, Persis, DDI, dan Nahdlatul Wathan, semua memiliki tokoh sentral. Lumrah saja. Tetapi ini tidak berarti bahwa ruang penulisan sejarah yang menghadirkan peran-peran tokoh lainnya dengan sengaja dihalangi. Saya kira tudingan Faizal yang demikian sangat tidak tepat,” tegasnya.

Terhadap pernyataan-pernyataan Faizal tentang NU, Habib Sadig menilai sebaiknya Faizal mengedepankan akhlak di ruang publik.

“Kita tidak perlu berdebat dengan data yang terbatas, yang hanya mengandalkan satu sumber bacaan, apalagi sampai menantang mubahalah. Itu bukan ciri pengikut Ahlus Sunnah wal Jama’ah,” pungkasnya.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here