Home Internasional Alkhairaat Dalam Era Simulacra dan Post Truth

Alkhairaat Dalam Era Simulacra dan Post Truth

173
0

Alkhairaat Pusat – Universitas Alkhairaat (UNISA) Palu menyelenggarakan Seminar Internasional dengan tema Organisasi Massa Islam: Masa Lalu, Masa Kini, dan Masa Yang Akan Datang, di Aula Ibnu Sina Fakultas Kedokteran (FK), Kamis, 17/10/2019.

Tampil sebagai pemateri dalam acara tersebut Dekan Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Palu, DR. Lukman S. Tahir dan akademisi Oxford University, Dr. Kevin W. Fogg.

Menurut Kevin Fogg, pada umumnya organisasi Islam yang besar di daerah-daerah di Indonesia, terbentuk dari gerakan pendidikan dan mendirikan sekolah atau madrasah, seperti Alkhairaat.

Kevin menjelaskan, beberapa organisasi Islam memiliki ciri khas atau berkaitan dengan etnis tertentu, letak geografis tertentu dan keterkaitan dengan politik. Menurutnya, Alkhairaat berbeda dengan beberapa organisasi besar seperti, Nahdatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah yang identik dengan partai politik.

Sementara itu Lukman S. Tahir menyatakan Abnaul Khairat harus kembali ke khittah Alkhairaat. Alkhairaat adalah rumah bangsa, dimana Guru Tua dijadikan rool model, Uswatun Hasanah, bagaimana Guru Tua bersentuhan dengan non muslim, bagaimana Guru Tua bersentuhan dengan budaya yang sangat multikulutural, penguasaan ilmu dan ahlak.

Keduanya sepakat menyebutkan bahwa Organisasi Masyarakat (Ormas), termasuk Alkhairaat, kini menghadapi Era Simulacra dan Post Truth.

“Kedua tantangan ini mengancam eksistensi semua ormas, termasuk Alkhairaat. Jika kita tidak bisa menghadapinya bisa gulung tikar dan akan menjadi kenangan dan bahan cerita dimasa akan datang,” kata Dr. Lukman S Tahir.

Menurutnya, Alkhairaat sebagai Ormas terbesar di Indonesia Timur memiliki basis di dunia pendidikan harus bisa menghadapi kedua tantangan tersebut. Era Simulacra itu adalah era kemunafikan, hidup dengan pencitraan. Pencitraan dihadirkan dan diolah sedemikian rupa, padahal sejatinya itu hanyalah rekayasa.

“Banyak yang tidak asli sekarang ini, banyak persoalan-persoalan sosial, kebangsaan dan politik itu sesungguhnya sesuatu yang tidak nyata dibuat menjadi nyata, dan menariknya, media begitu cepat merespon, apa yang ada di TV itu banyak yang tidak nyata, inilah yang diproduksi secara besar-besaran seakan-akan yang tidak nyata itu dianggap menjadi nyata,” ujarnya.

Sementara di era Post Truth katanya, adalah era dimana fakta tidak lagi mampu membentuk opini publik, sebaliknya emosional dan keyakinan pribadi kepada seseorang lebih berpengaruh dalam pembentukan opini publik.

“Fakta-fakta tidak lagi mampu membentuk opini publik, karena kebohongan yang diproduksi secara berulang-ulang itu akan menghasilkan kebenaran, ini yang sangat berbahaya dan kini juga telah terjadi,” jelasnya.

“Perhahatikan rekam jejak seseorang, jangan mudah mengamini apa yang disampaikan,” pesannya.

Ia juga menitipkan pesan, agar Unisa Palu bisa mendesain sebuah kurikulum berbasis multikultural, agar bisa melahirkan generasi yang bisa memahami dan menghormati adanya perbedaan di masyarakat, sebagaimana yang telah dicontohkan pendiri Alkhairaat Guru Tua.

Sementara itu, Rektor Unisa Palu, Dr.Umar Alatas saat membuka seminar Internasional, berharap para peserta seminar bisa mendapatkan pencerahan tentang organisasi kemasyarakatan yang ada dari dua narasumber, masing-masing Mantan Rektor Unisa Palu, Dr Lukman S Tahir dan Akademisi Kevin W Fogg, Ph.D peneliti dari Inggris.

“Semoga dengan kehadiran peserta bisa memetik ilmu dan pelajaran dari pemateri, sehingga bisa mengenal lebih jauh bagaimana organisasi Islam di Indonesia, terutama Alkhairaat,” tutup Rektor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here