Home Ulama Indonesia Mengenal Kepribadian Penerus Dakwah Guru Tua

Mengenal Kepribadian Penerus Dakwah Guru Tua

Sayyid Idrus bin Ali Alhabsyie“Ibunya memberikanya nama sesuai dengan nama abahnya, Idrus, dengan harapan semoga kelak sang anak dapat menjadi penerus dakwah sekaligus pendidik di masyarakat”.

Lahir pada 2 November 1970, HS. Idrus bin Ali Alhabsyie merupakan anak kesepuluh dari dua belas bersaudara, pasangan HS. Ali bin Husein Alhabsyie dan Hj. Sy. Sidah binti Idrus Aljufrie. Ayah beliau, HS. Ali bin Husein Alhabsyie merupakan kakak/saudara dari istri Guru Tua (Habib Idrus bin Salim Aljufrie), Sy. Haolah binti Husein Alhabsyie sedangkan ibu beliau adalah anak dari Guru Tua, pendiri Yayasan Alkhairaat Pusat Palu.Tidak hanya wajah dan perawakan dari Sayyid Idrus Alhabsyie yang menyamai Guru Tua namun juga metode dakwahnya yang selalu mengikuti jejak sang kakek.

Pernah mengenyam pendidikan di Universitas Al-Azhar, Cairo, Mesir, kemudian melanjutkan pendidikan di Darul Mustafa, Hadramaut, Yaman, Sayyid Idrus Alhabsyie begitu mendedikasikan hidupnya terhadap pendidikan. Bahkan, ketika di Yaman, Hadramaut beliau mendatangi tempat-tempat yang pernah dikunjungi oleh sang kakek dan belajar dari para murid beliau.

Dedikasi Sayyid Idrus Alhabsyie terhadap pendidikan terus mengalir bahkan ketika beliau kembali ke Indonesia. Beliau pun memulai dakwahnya didaerah pegunungan yang dulunya dikenal sebagai vila bagi para pecinta dunia. Kedatangan beliau didaerah itu, perlahan tapi pasti telah merubah daerah tersebut menjadi pusat pendidikan salafiyah yang kini telah mempunyai beberapa cabang dengan para pendidik lulusan Madinah, Mesir dan Yaman. Dengan dibantu oleh beberapa murid serta keluarga Alm. H. Saleh H. Mongki dan Kel. Bustamin Nontji, beliau pun membebaskan lokasi vila tersebut untuk dijadikan sebagai Pondok Pesantren yang terletak di Kecamatan Palu Barat-Ulujadi, Kota Palu, Sulawesi Tengah.

Dalam pengembangan pendidikan Salafi, Sayyid Idrus Alhabsyie memprakarsai pembacaan Maulid Simthud Durar setiap malam Jumat di mesjid Alkhairaat yang merupakan makam dari kakek beliau, Guru Tua, Habib Idrus bin Salim Aljufrie. Kemudian pada setiap malam Senin, beliau mengadakan majelis taklim keliling Kota Palu diawali dari mesjid IAIN Palu, mesjid Raya dan mesjid Jami Kampung Baru yang merupakan mesjid tertua di Kota Palu (1812-1901).

Berbekal ilmu pengetahuan serta ketaatan terhadap sang guru, para murid lulusan Darul Mustafa Lil Khairaat diberikan mandat untuk berdakwah ke beberapa daerah dan provinsi di Indonesia dalam kegiatan Safari Ramadhan. Kegiatan ini bertujuan melatih mental, membentuk karakter, memberikan wawasan, pengalaman serta pembelajaran kepada para murid bagaimana mereka berdakwah ditengah-tengah masyarakat. Setelah mereka kembali dari dakwahnya, para murid akan di evaluasi tentang kendala yang mereka hadapi dilapangan, bahkan beberapa dari mereka ditugaskan oleh Sayyid Idrus Alhabsyie untuk menetap didaerah tersebut.


(Pusat Data Alkhairaat-Alfagih Mugaddam)