Alkhairaat Bulungan, Tanjung Selor – Jalan hidup manusia tidak ada yang tahu. Semua sudah digariskan oleh Allah sejak dilahirkan. Seperti yang kini dijalani oleh Zulkarnain, ustaz muda pertama yang berhasil menjadi imam di Masjid Agung Istiqomah Tanjung Selor, Bulungan.

Berdasarkan Surat Keputusan (SK) Ketua Masjid Agung Istiqomah Kabupaten Bulungan Nomor: 050/KEP-KMAI/II/2018 tentang Penetapan Imam Besar, Wakil Imam Besar, Imam Utama Rawatib dan Wakil Imam Rawatib Masjid Agung Istiqomah Kabupaten Bulungan Periode Tahun 2018-2019, dia diangkat sebagai imam utama.

Pria yang akrab disapa Ustaz Zul ini lahir dari keluarga suku Tidung di Desa Antal, Bulungan, 12 Agustus 1992. Semasa kecil, dia mengikuti orangtuanya pindah ke Sekatak.

Zul memang sudah menunjukkan ketertarikannya terhadap pengetahuan agama Islam sejak kecil. Terlebih, setelah diangkat sebagai anak oleh seorang ustaz di Desa Sekatak Buji.

Setiap pagi, Zul, belajar di sekolah formal, di SDN 001 Sekatak. Kemudian, sore harinya belajar di Madrasah Ibtidaiyah Alkhairaat, Sekatak. Nah, dari ayah angkatnya inilah Zul belajar tilawah, yakni metode membaca Alquran dengan jelas dan benar disertai suara yang indah.

Karena kemampuannya, dia sering diikutkan dalam lomba Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ). Mulai level kelurahan hingga level provinsi. Bahkan, hampir setiap tahun dia mengikuti MTQ dan selalu berprestasi. Terbaru, dia berhasil menyabet satu piala tilawah tingkat dewasa pada MTQ Kabupaten Bulungan. “Alhamdulillah, kemarin di Salimbatu juara satu,” tutur Zul.

Setelah lulus sekolah dasar, Zul memiliki keinginan bisa masuk ke pondok pesantren. Namun, keinginannya tersebut belum mendapatkan izin sang bunda karena belum terbiasa berpisah. Tapi, keinginannya yang besar untuk mempelajari agama Islam, membuat ibunya luluh. Kemudian, Zul diizinkan menimba ilmu di Pesantren Alkhairaat di Tanjung Selor.

“Dari kecil saya sudah suka pelajaran-pelajaran madrasah, seperti fiqih, tauhid, hadits dan ilmu Alquran,” ungkap Zul.

Selama enam tahun, Zul mengenyam pendidikan di Pesantren Alkhairaat. Lulus 2011. Zul mengaku sempat ditempatkan di Desa Betayau, Tana Tidung, selama beberapa bulan untuk melakukan pengabdian kepada masyarakat.

Hanya beberapa bulan di Tana Tidung, Zul kemudian mendapatkan beasiswa belajar ke Hadramawt, Yaman. “Di Pesantren Alkhairaat itu setelah lulus tidak langsung dikasih ijazah dan kuliah. Kita diwajibkan mengajar minimal satu tahun di kampung-kampung, sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Ada yang ditempatkan di Liagu, Sebatik, Bunyu, Malinau, bahkan ada yang ditempatkan di Tawau. Waktu saya mengabdi itu ada penerimaan beasiswa ke Yaman, saya disuruh ikut dan alhamdulillah diterima,” akunya.

2012 lalu, pemuda ini berangkat ke Yaman atas program beasiswa kerja sama antara Pemerintah Kabupaten Bulungan dan Pesantren Alkhairaat. Ditempatkan di Ribat Alfath, Huraidhah, Hadramawt, Zul mengambil spesialisasi Ilmu Alquran dan menghapal Alquran.

“Di Ribat Alfath itu ada dua spesialisasi, Mutun dan Alquran. Kalau mutun itu fokusnya dengan kitab-kitab hukum seperti fiqih. Kalau Alquran itu fokusnya menghafal Alquran dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan Alquran itu sendiri, seperti hukum dan jenis bacaan Alquran,” jelasnya.

Setelah berhasil menghapalkan 30 juz Alquran, Zul kembali ke Indonesia pada 2015. Sepulang dari Yaman, dia ditempatkan mengajar di Kota Tarakan.

Pada akhir 2017, ayah dari Nabila dan Laila ini mengikuti seleksi Imam Masjid Agung Istiqomah Tanjung Selor. “Saya hanya mengikuti perintah guru saya, Habib Muthahar Aljufrie, yang tidak mungkin saya tolak. Saya ikut seleksinya, alhamdulillah diangkat jadi imam utama,” bebernya.

Kepada generasi muda Kaltara, Zul berpesan agar tidak alergi untuk mempelajari ilmu agama. Dia mengingatkan agar jangan menunggu usia senja baru ikut majelis taklim untuk belajar agama.

“Belajar agama itu tidak kuno, malah menuntun kita untuk hidup lebih baik dan lebih bermanfaat,” pesannya.

Sebagai informasi, Kementerian Agama sudah menetapkan syarat untuk menjadi imam masjid agung tingkat kabupaten. Yakni, pendidikan minimal strata satu (S1) atau sederajat, memiliki hapalan Alquran minimal 2 juz, memiliki keahlian membaca Alquran dengan suara merdu, serta memiliki pemahaman tentang fiqh, hadits dan tafsir.

Sumber: PROKAL

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here